Sapiens in Minutes #6. Agama

• AGAMA

Kini agama sering dipandang sebagai sumber diskriminasi, perselisihan, dan perpecahan. Namun, sesungguhnya agama telah menjadi pemersatu terbesar ketiga bagi manusia, selain uang dan imperium.

Tapi sebelum jauh disalahpahami, kita mungkin perlu memahami definisi agama menurut YNH.

Agama bukan sekadar bentuk kepercayaan pada tuhan. Dan agama sangat jauh berbeda dengan apa yang kita sebut spiritualitas. Banyak orang sering salah kaprah dalam mengartikan agama.

Agama, menurut Harari, adalah sebuah sistem norma-norma dan nilai-nilai manusia yang didasarkan pada keyakinan atas suatu Tatanan SUPRA-MANUSIA.

Yang dimaksud dengan “supra-manusia” ialah sesuatu yang melampaui manusia, yang diyakini oleh para penganutnya sebagai bukan hasil ciptaan atau kesepakatan atau sesuatu yang bisa dikendalikan oleh mereka. Supra-manusia ini bisa termanifestasi sebagai sesuatu yang dianggap supra-natural atau tidak natural (seperti tuhan), tapi tidak selamanya demikian, karena sesuatu yang natural (seperti hukum-alam) juga bisa dianggap sebagai entitas supra-manusia.

Intinya, agama-agama menegaskan bahwa hukum kita bukanlah hasil dari ulah manusia, melainkan dititahkan oleh suatu otoritas ‘absolut yang mahatinggi’ (supra-manusia). Para penganut agama bisa memiliki beragam narasi terkait tujuan mereka beragama, namun tujuan sebenarnya dari agama tidak lain tidak bukan adalah untuk menjamin stabilitas sosial.

Dengan definisi yang mencakup semua seperti ini, semoga tidak ada lagi eksklusivitas bagi setiap orang dalam mengartikan agamanya masing-masing atau menganggap sistem kepercayaan orang lain sebagai bukan-agama.

*

#1

Dalam sejarah umat manusia, tatanan agama yang pertama kali muncul adalah ANIMISME.

Di mulai sejak Revolusi Kognitif kala manusia mampu membayangkan hal-hal yang tak ada, manusia pemburu-pengumpul tidak lagi hanya mengenal adanya hewan dan tumbuhan, melainkan juga entitas-entitas imajiner seperti peri dan hantu. Manusia tidak sekadar bisa membayangkan entitas ini, tetapi juga meyakini keberadaannya, dan menerjemahkan keberadaan entitas itu ke dalam norma atau aturan yang mengikat bagi mereka.

Sebagaimana diketahui, batas kelompok yang bisa dibentuk oleh manusia secara alami hanya berjumlah 150 orang (angka Dunbar), namun dengan munculnya tatanan animisme, angka tersebut bisa dilampaui, dan manusia bisa membentuk kelompok yang hidup bersama dalam satu area sekitar 1.000 km persegi. Manusia pemburu-pengumpul yang tinggal di lembah tertentu perlu memahami tatanan supra-manusia yang mengatur lembah mereka, dan menyesuaikan perilaku dengan aturan itu.

Pepohonan yang dianggap mengandung arwah harus dijaga, hewan-hewan yang dianggap sebagai penjaga roh suku harus dihormati. Kaum animis memandang dirinya SETARA dengan hewan dan tumbuhan. Jika manusia berkepentingan kepada hewan atau tumbuhan, mereka akan berkomunikasi langsung dengan hewan atau tumbuhan tersebut. Norma animisme adalah keselarasan manusia dan ekosistem. Hanya saja, animisme masih bersifat lokal. Belum bisa mempersatukan suku-suku yang berbeda, yang masing-masing memiliki keyakinannya sendiri.

#2

Revolusi Agrikultur tampaknya disertai dengan revolusi keagamaan. Pemburu-pengumpul yang mulai menetap memerlukan tatanan fiksional baru untuk bisa melakukan domestikasi terhadap hewan dan tumbuhan yang tadinya dianggap setara. Lahirlah TEISME untuk melegitimasi perilaku itu. Jika kaum animis menganggap manusia hanya sebagai salah-satu makhluk yang menghuni dunia, teisme mengubah hewan dan tumbuhan dari anggota setara meja bundar keagamaan menjadi PROPERTI. Dan secara otomatis meningkatkan status manusia di atas hewan dan tumbuhan.

Teisme memunculkan dewa-dewa untuk mengatasi problem pertanian, seperti kesuburan, pengobatan, dan sebagainya. Dalam teisme, hewan dan tumbuhan kehilangan kemampuan berkomunikasi. Dewa menjadi mediator relasi antara manusia dan hewan/tumbuhan, yang melahirkan kontrak dalam bentuk LITURGI PENGORBANAN dan JANJI-JANJI DEWA.

Bentuk teisme pertama adalah agama-agama POLITEISME. Agama-agama ini menganggap bahwa dunia dikuasai oleh sekelompok dewa yang kuat, seperti dewi kesuburan, dewa hujan, dewa perang, dsb.

Namun perlu diingat, animisme tidak sepenuhnya lenyap saat kedatangan politeisme. Meskipun dewa-dewa bermunculan, setan-setan, peri-peri, hantu-hantu, batu-batu suci, dan pohon-pohon suci tetap menjadi bagian integral dari hampir seluruh agama politeis.

Politeisme tidak menentang eksistensi satu kekuatan atau hukum tunggal yang mengatur alam semesta. Dewa-dewa Yunani seperti Zeus, Hera, Apollo adalah bawahan dari Nasib (Moira, Ananke). Dewa-dewa Hindu dipimpin oleh Atman, penguasa dewa dan arwah dan dunia biologis serta fisik; esensi abadi atau jiwa dari seluruh alam semesta, disamping arwah setiap individu dan setiap fenomena.

Dewa tertinggi itu tidak memiliki kepentingan dan bias, dan tidak berurusan dengan hasrat, kepedulian dan kecemasan manusia. Sehingga bagi kaum politeis, tidak ada guna menyembah dewa tertinggi. Mendekati dewa tertinggi sama dengan menahan segala nafsu, menerima keburukan dan kebajikan, kekalahan, kemelaratan, sakit dan kematian. Untuk urusan duniawi, orang Hindu, misalnya, tidak membangun kuil untuk Atman, dan lebih memilih mendekati dewa-dewa dengan kekuatan parsial: Ganesha, Laksmi, Sarasvati.

Politeisme menghadirkan prularitas dewa. Inilah yang membuat politeisme secara inhern berpikiran terbuka, dan jarang mengadili kaum “bidah” dan “kafir”. Politeisme juga tidak berwatak misionaris. Ketika kaum politeis menaklukkan imperium-imperium besar, mereka tidak berusaha menjadikan bangsa jajahannya sebagai pemeluk baru. Dalam banyak kasus, elit imperium sendiri mengadopsi dewa-dewa dan ritual bangsa jajahannya. Orang-orang Romawi dengan senang hati menambahkan dewi Asia – Cybele dan dewi Mesir – Isis dalam jajaran dewa mereka.

#3

Seiring waktu, sebagian pengikut tuhan-tuhan politeis menjadi begitu asik dengan patron khusus mereka sehingga terseret menjauh dari pemahaman dasar politeis. Mereka mulai meyakini bahwa Tuhan mereka adalah satu-satunya Tuhan, dan bahwa Dia sesungguhnya kekuatan tertinggi alam semesta. Lahirlah agama-agama MONOTEISME. Bagi kaum monoteis, Tuhan yang satu itu memiliki kepentingan dan biasnya sendiri, sehingga mereka bisa mencapai kesepakatan dengan-Nya dengan memohon kepadanya secara langsung.

Agama monoteis pertama muncul di Mesir, ketika Fir’aun Akhenaten mendeklarasikan bahwa salah satu dewa kecil dari jajaran dewa Mesir, dewa Aten, sebagai kekuatan tertinggi yang mengatur alam semesta. Namun revolusi religious ini tidak berhasil. Setelah Fir’aun mati, Aten ditinggalkan, kalah oleh jajatan dewa lainnya.

Politeisme terus melahirkan agama-agama monoteis lain di banyak tempat, tetapi semua tetap marginal, paling tidak karena gagal menyampaikan pesan universalnya. Judaisme, misalnya, merupakan agama monoteis lokal dan tidak missioner.

Terobosan datang Bersama Kristen. Agama ini bermula sebagai sebuah sekte esoterik Yahudi yang berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi bahwa Yesus dari Nazareth adalah messiah yang telah lama dinanti-nantikan. Namun, salah satu pemimpin pertama sekte itu, Paulus dari Tarsus, berpendirian bahwa jika kekuatan tertinggi alam semesta memiliki kepentingan dan bias, maka itu sesuatu yang harus di dengar oleh SETIAP ORANG. Maka perlu untuk menyebarkan agama ini ke seluruh dunia. Argumen ini jatuh ke tanah yang subur. Dalam satu tikungan historis yang paling aneh, sekte esoterik Yahudi ini mengambil alih raksasa Imperium Romawi.

Kesuksesan Kristen menjadi model bagi agama monoteis lain yang muncul di semenanjung Arab pada abad ke-7 Masehi. Sebagaimana Kristen, Islam juga dimulai dari sebuah sekte kecil di sudut terpencil dunia, tetapi dalam sebuah kejutan yang lebih aneh dan cepat, ia berhasil menyeruak di gurun Arabia dan mengukuhkan sebuah Imperium besar yang terbentang dari Samudra Atlantik sampai ke India. Oleh karenanya, ide monoteis memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan kaum monoteis cenderung lebih jauh fanatik dan missioner ketimbang kaum politeis.

Sebagaimana animisme terus bertahan dalam politeisme, demikian pula politeisme terus bertahan dalam monoteisme. Bagi Anda yang monoteis, tentu Anda akan mengatakan bahwa kehadiran monoteisme telah menghapus politeisme. Tapi, selalu saja ada jurang kontradiksi dalam agama-agama. Monoteisme mengusir dewa-dewa ke pintu depan hanya untuk membawanya masuk kembali melalui jendela samping. Kristen, misalnya, mengembangkan jajaran dewanya sendiri, santo-santonya sendiri, yang kultus-kultusnya sedikit berbeda dari kultus dewa-dewa politeistik.

#4

Politeisme tidak hanya melahirkan agama-agam monoteis, tetapi juga agama DUALISTIK.

Agama dualistik mengiringi keberadaan DUA kekuatan yang bertentangan: baik dan jahat. Tak seperti monoteisme, dualism meyakini bahwa kejahatan adalah kekuatan yang independent, tidak diciptakan oleh Tuhan yang baik. Dualisme menjelaskan bahwa seluruh alam semesta ini merupakan ajang pertarungan antara kedua kekuatan, dan segala yang terjadi di dunia merupakan bagian dari pertarungan itu. Contoh agama dualism: Zoroaster, Gnosticisme, dan Manichaenisme.

Dualisme adalah pandangan dunia yang sangat memikat karena memiliki jawaban singkat dan sederhana atas Problem Kejahatan. “Mengapa ada orang jahat di dunia?” Kaum monoteis harus melakukan gimnastik intelektual untuk menjelaskan mengapa Tuhan yang baik yang tahu segalanya dan memiliki semua kekuatan membiarkan begitu banyak kejahatan di dunia. Satu penjelasan terkenal: bahwa itu cara Tuhan dalam memberi manusia kebebasan berkehendak.

Jika tak ada kejahatan, manusia tidak bisa memilih antara yang baik dan yang jahat sehingga tidak ada kebebasan berkehendak. Namun, ini adalah jawaban non-intuitif yang langsung memunculkan banyak sekali pertanyaan baru. Kebebasan berkehendak memungkinkan manusia memilih yang jahat. Banyak malah yang memilih yang jahat dan, menurut penjelasan standar monoteis, pilihan itu pasti membawa hukuman ilahiah.

Jika Tuhan tahu sebelumnya bahwa seseorang akan menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih kejahatan, dan bahwa hasilnya dia akan dihukum dengan siksa abadi di neraka, mengapa Tuhan menciptakan dia? Para teolog menulis tak terhitung buku untuk menjawab pertanyaan semcam itu. Sebagian meyakinkan. Sebagain tidak. Yang pasti bahwa kaum monoteis kesulitan mengangani Problem Kejahatan. Bagi kaum dualis, kejahatan terjadi karena dunia tidak hanya diatur oleh Tuhan baik sempurna yang tahu segalanya dan memiliki segala kekuatan. Ada Tuhan jahat yang independen di dunia.

Pandangan dualis memang memiliki kelebihan dalam menjelaskan Problem Kejahatan, namun memiliki kekurangan dalam Problem Tatanan. Jika memang ada dua kekuatan yang bertentangan di dunia, satu baik dan satu jahat, lalu siapa yang menetapkan hukum yang mengatur pertarungan antara keduanya? Ketika Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat berkelahi, hukum Bersama apa yang mereka patuhi, dan siapa yang menetapkan hukum-hukum itu?

Bagaimana pun, munculnya gelombang monoteisme tidak benar-benar menyapu dualisme. Monoteisme Yahudi, Kristen, dan Islam menyerap banyak keyakinan dan praktik dualis, dan sebagian ide-ide paling dasar dari apa yang kita sebut “monoteisme” sesungguhnya berasal dari semangat dualis. Tak terhitung orang Kristen, Muslim dan Yahudi yang meyakini kontradiksi bahwa ada kekuatan jahat yang dahsyat yang bertindak independen dan memerangi Tuhan yang baik – yang disebut sebagai Iblis atau Setan. Bahkan, kaum monoteis membayangkan bahwa Tuhan yang baik juga membutuhkan bantuan mereka dalam pertarungan melawan Iblis, yang mengilhami sebagaian di antaranya seruan Jihad dan Perang Salib.

Bagaimanapun, kaum monoteis tidak bisa lari dari godaan dikotomi dualis, jelas karena dikotomi membantu mereka mengatasi Problem Kejahatan. Maka kontradiksi semacam itu pada akhirnya menjadi pilar bagi pemikiran Kristen dan Islam. Keyakinan pada surga (alam Tuhan baik) dan neraka (alam Tuhan jahat) juga berasal dari dualis. Jadi, monoteisme, sebagaimana peran yang telah dimainkannya dalam sejarah, adalah sebuah kleidoskop warisan monoteis, dualis, politeis, dan animis, yang menyatu di bawah payung ilahiah tunggal. Ada Tuhan monoteis, ada Setan/Iblis dualis, santo-santo politeis, dan hantu-hantu animis.

Para ahli agama memiliki nama untuk persetujuan simultan atas ide-ide yang berbeda dan bahkan kontradiktif dan kombinasi ritual-ritual serta praktik-prakti ini yang diambil dari berbagai sumber. Itu disebut SINKRETISME. Sinkretisme, mungkin, malah menjadi satu-satunya agama tradisional besar di dunia.

#5

Sejarah agama-agama dunia tidaklah bermuara pada sejarah tuhan-tuhan. Beberapa agama, seperti Jainisme dan Buddhisme di India, Daoisme dan Konfusianisme di Cina, dan Stoisisme, Cyncisme, serta Epicureanisme di daratan mediterania, dicirikan oleh pengabaiannya pada tuhan atau dewa.

Kredo-kredo ini memandang bahwa tatanan supra manusia yang mengatur dunia adalah produk dari hukum alam, bukan kehendak atau keinginan ilahiah. Sebagian agama-agama hukum alam ini terus mengiringi eksistensi tuhan-tuhan, tetapi tuhan-tuhan mereka tunduk pada hukum alam, tak ubahnya seperti manusia, biantang dan tumbuhan. Tuhan-tuhan memiliki ceruknya sendiri dalam ekosistem, sebagaimana gajah-gajah dan landak-landak juga memilikinya, tapi tak tuhan-tuhan itu tak bisa mengubah hukum alam melebihi yang bisa dilakukan gajah.

#6

Agama berikutnya yang tercatat dalam sejarah adalah HUMANISME. Dan salah satu sekte humanisme yang disebut Liberalisme mungkin telah menjadi agama paling besar dan paling banyak dianut oleh umat manusia di dunia hari ini.

Tapi tunggu dulu. Apakah Humanisme bisa disebut agama? Berikut tutur Harari.

Bagi sebagian besar orang, masa 300 tahun terakhir ini sering dianggap sebagai masa tumbuhnya sekularisme, yang di dalamnya agama-agama semakin kehilangan nilainya. Jika kita berbicara tentang agama-agam teis, itu mungkin benar. Namun jika kita memasukkan juga agama-agama hukum alam, maka modernitas ternyata merupakan sebuah masa gairah religious yang intens, upaya-upaya missioner yang tiada tandingannya, dan perang-perang agama paling berdarah dalam sejarah.

Abad modern menyaksikan bangkitnya agama-agama hukum alam baru, seperti liberalisme, komunisme, kapitalisme, nasionalisme, fasisme-naziisme. Kredo-kredo ini tidak suka disebut agama, dan menganggap diri sebagai ideologi. Namun, itu hanyalah permainan semantik belaka. Jika sebuah agama adalah system norma dan nilai manusia yang bertumpu pada keyakinan terhadap suatu tatanan supra-manusia, maka Komunisme Soviet tak ubahnya sebuah agama sebagaimana Islam.

Islam tentu saja berbeda dari komunisme karena Islam memandang tatanan supra-manusia itu mengatur dunia sebagai titah dari satu Tuhan pencipta yang mahakuasa, sedangkan komunisme Soviet tidak meyakini Tuhan. Namun, Buddhisme juga sedikit memberi perhatian pada tuhan-tuhan, tetapi kita umumnya tetap mengklasifikasikannya sebagai agama. Sebagaimana kaum Buddhis, kaum Buddhis percaya pada tatanan supra-manusia berupa hukum alam yang tak bisa diubah yang membimbing perbuatan-perbuatan manusia. Jika kaum Buddhis meyakini bahwa hukum alam ditemukan oleh Siddhatha Gautama, kaum komunis percaya bahwa hukum alam ditemukan oleh Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.

Kemiripannya tidak berakhir di situ. Sebagaimana agama lainnya, komunisme juga memiliki kitab suci dan nabinya sendiri, seperti Das Kapital-nya Marx, yangmengajarkan bahwa sejarah akans egera berakhir dengan kemenangan tak terelakkan kaum proletar. Komunisme punya hari libur dan hari raya sendiri, seperti 1 Mei dan ulang tahun Revolusi Oktober. Komunisme punya teolog yang mahir tentang dialektika Marxis, dan setiap unit dalam angkatan perang Soviet memiliki pendeta yang disebut Komisar, yang memantau kesalehan para tantara dan perwira. Komunisme juga punya martir, perang suci, dan klenik seperti Trotskyisme. Komunisme adalah agama fanatik dan missioner. Seorang pemeluk komunisme taat tidak bisa menjadi Kristen atau Buddhis, dan diharapkan menyebarkan ajaran Marx dan lenin, bahkan dengan hargga nyawanya.

Sebagian besar pembaca mungkin sangat tidak nyaman dengan pemikiran ini. Jika membuat Anda merasa lebih baik, Anda bebas saja terus menyebut komunisme sebagai ideologi, bukan agama. Itu taka da bedanya. Kita membagi kredo-kredo ke dalam golongan agama-agama yang berpusat pada Tuhan dan ideologi-ideologi yang tak bertuhan, yang mengklaim didasarkan pada hukum-hukum alam. Namun, dengan begitu, agar konsisten, kita perlu memasukkan Buddha, Daois, sekte-sekte Daois dan Stoic juga dalam kategori ideologi, bukan agama.

Sebaliknya, kita harus melihat bahwa keyakinan pada tuhan-tuhan bertahan dalam banyak ideologi modern, dan bahwa sebagian dari ideologi itu, terutama liberalism, menjadi kurang bermakna tanpa keyakinan itu.Kredo-kredo itu tak kurang sinkretis dibandingkan monoteisme dan Buddhisme popular. Sebagaimana seorang Buddha memuja tuhan-tuhan Hindu, dan sebagaimana seorang monoteis bisa meyakini eksistensi Iblis/Setan, begitu pula orang sekuler masa kini secara simultan adalah nasionalis, kapitalis, dan humanis liberal.

Agama-agam teis fokus pada pemujaan tuhan-tuhan. Agama-agama Humanis memuja kemanusiaan, atau lebih tepatnya Homo sapiens. HUMANISME adalah sebuah keyakinan bahwa Homo sapiens punya sifat unik dan sacral, yang secara fundamental berbeda dari sifat semua binatang lain dan semua fenomena lain. Para pengikut humanis percaya bahwa sifat unik Homo sapiens merupakan hal paling penting di dunia, dan itu menentukan makna segala hal yang terjadi di bumi, dan menentukan makna segala hal yang terjadi di alam semesta. Kebaikan tertinggi adalah kebaikan Homo sapiens. Selebihnya di dunia ini dan semua makhluk yang ada semata-mata untuk manfaat bagi spesies ini.

Seluruh kaum humanis memuja kesucian manusia, tetapi mereka tidak menyepakati definisinya. Humanisme terpecah menjadi 3 sekte yang bersaing, yang bertengkar soal definisi pasti “kemanusiaan”, seperti halnya agama-agama tradisional beserta sekte-sektenya yang bersaing dan bertengkar soal definisi pasti tentang Tuhan.

Sekte yang pertama adalah humanisme ortodoks atau HUMANISME LIBERAL atau yang dikenal sebagai liberalisme. Kaum liberal percaya bahwa “kemanusiaan” adalah kualitas manusia-manusia individual sehingga kebebasan individu-individu sangatlah suci. Sifat sakral kemanusiaan berada dalam diri setiap dan masing-masing individu Homo sapiens. Inti dari manusia individual memberi makna pada dunia, dan menjadi sumber dan otoritas bagi seluruh tindak-tanduk manusia. Jika seorang liberal menghadapi sebuah dilema, ia tidak harus melihat ke langit dan berdoa atau mencari petunjuk dalam kitab suci seraya mendengarkan kata-kata Tuhan, sebaliknya, ia lebih dulu akan menoleh ke dalam batinnya dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh hati nuraninya — suara hati itulah suara kemanusiaan sesungguhnya. Firman-firman pokok liberalisme dimaksudkan untuk melindungi kebebasan suara hati ini, yang secara umum dikenal sebagai “hak-hak asasi manusia”.

Sekte yang kedua adalah HUMANISME SOSIALIS atau disebut juga komunisme. Berbeda dengan kaum liberal yang individualis, kaum sosialis percaya bahwa “kemanusiaan” adalah soal kolektivitas. Yang sakral itu bukanlah suara hati masing-masing individu, melainkan spesies manusia secara keseluruhan, dan hukum tertingginya adalah untuk melindungi kesetaraan spesies Homo sapiens. JIka seorang sosialis menghendaki sesuatu, ia tidak boleh mendengarkan hati nuraninya sebagai individu, melainkan ia harus mendengarkan kehendak kolektif yang biasanya diwakili oleh suara partai.

Sekte yang ketiga adalah HUMANISME EVOLUSIONER yang melahirkan fasisme. NAZI, sebagai representasi yang paling terkenal, mendefinisikan “kemanusiaan” sebagai sesuatu yang tidak tetap. Pengikut NAZI meyakini bahwa manusia bukanlah sesuatu yang universal dan kekal, melainkan spesies yang bisa bermutasi dan berevolusi menjadi superhumans atau turun derajatnya menjadi subhumans. Ambisi utama NAZI adalah untuk melindungi umat manusia dari degenerasi ke subhumans, dan mendorong evolusi progresif menuju superhumans.

Agama-agama humanis ini tidak kalah missioner dibandingkan monoteisme. Mereka berperang habis-habisan untuk menjadi agama dominan di planet ini. Perang Dunia Kedua menghancurkan agama fasisme, dan sejak akhir 1940-an hingga akhir 1980-an dunia hanya menjadi medan pertempuran antara dua agama: komunisme dan liberalisme. Komunisme lalu runtuh, dan Liberalisme yang tersisa menjadi panduan dominan bagi masa lalu manusia dan panduan yang sangat diperlukan untuk masa depan dunia.

Sebagaimana yang telah dikatakan, hari ini, apa pun keyakinan tradisional yang Anda pegang, kemungkinan Anda adalah seorang liberal. Meskipun Anda seorang Muslim, Kristen, Marxis, tapi jika Anda tetap percaya pada pikiran dan hati nurani Anda sendiri, percaya bahwa Anda bebas menentukan nasib Anda sendiri, percaya pada Hak Asasi Manusia, percaya pada proses Demokrasi dan Ekonomi Pasar Bebas, maka Anda juga adalah seorang Liberal.

*

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai